“Resopa temmanggingi, matinulu, namalomo, naletei pammase Dewata sewwa-E.”
Begitulah pesan orang tua
Bugis-Makassar kepada anak cucunya. Bahwa “Rahmat kesejahtraan dari Tuhan Yang
Maha Esa hanya bisa diraih melalui kerja keras, gigih, dan ulet”.
Bagi warga Bugis-Makassar,
semangat kerja keras yang biasa dilafalkan sebagai makkareso tak hanya diwujudkan dalam bentuk bekerja ulet di tanah
kelahiran atau di kampong asal. Guna bertahan hidup di mana saja, semangat itu
dikobarkan. Namun, lazimnya, kutipan pesan itu diucapkan para orang tua kepada
anak-anak muda yang meminta restu untuk sompe’
atau merantau.
Antropolog dari Universitas
Hasanuddin, Prof Dr Abu Hamid, dalam buku Pasompe : Penggabaran Orang Bugis
(Pustaka Refleksi 2004), memaknakan pasompe’ sebagai pelaut-pedagang yang
berlayar dari pulau ke pulau atau dari satu negeri ke negeri lain. Orang Bugis
lekat dengan budaya migrasi karena ketangkasannya berlayar. Ini erat dengan
hokum pelayaran dan perdagangan, seperti kontrak kerja, perkongsian, upah
muatan/penumpang, dan utang piutang.